Faktanya, memang sebuah senyuman itu memiliki banyak pengertian yang kompleks. Terkadang kita tidak sungguh-sungguh menyadari mengapa kita tersenyum pada orang lain. Dalam posisi kita sebagai masyarakat dengan budaya timur, kita terbiasa melakukannya untuk menunjukkan bahwa kita berusaha bersikap sopan atau terbuka pada orang lain. Saat kita tersenyum walau hati tidak menginginkannya, yang terlihat mungkin senyuman masam; pada saat kita mencoba tersenyum saat kita merasa khawatir atau kecewa, maka senyuman akan terlihat kecut. Saat kita tersenyum saat hati mengalami perih atau luka, senyuman akan terlihat seperti dipaksakan, dengan kata lain senyuman tersebut bisa jadi adalah palsu. Tetapi hanya orang yang melihatnya yang benar-benar mengerti atau terlatih sensitivitasnya yang menyadari bahwa senyuman itu keluar bukan karena diri menginginkannya. Sebelum kita mendeskripsikan dan mempersepsi secara langsung apakah senyuman itu merupakan senyuman yang dipaksakan atau tidak, terungkap masalah bahwa senyuman itu bukan lagi pertanda bahwa seseorang merasa senang atau bahagia, bahkan mungkin dapat sebagai pertahanan dirinya atau untuk suatu tujuan tertentu. Terlepas dari itu pemahaman umum mengenai hal ini perlu endapat telaah lebih lanjut.
Didalam bukunya, Ekman (2003) mengungkapkan bahwa senyum merupakan sinyal emosi menyenangkan pada wajah; kegirangan, kepuasan hati, kebahagiaan, sensasi kesenangan, kelegaan, keheranan, kesenangan yang meluap-luap, dan mungkin sanjungan, rasa terima kasih, semuanya selalu melibatkan senyuman. Artinya, senyum identik hubungannya dengan sesuatu kejadian yang membahagiakan. Kemudian ia juga menambahkan bahwa senyum-senyum ini mungkin berbeda dalam intensitas, seberapa cepat senyum itu tampak, seberapa lama senyum itu tertinggal di wajah, dan seberapa lama ia menghilang. Dalam hal ini, senyuman dapat terlihat apakah ia berasal dari keinginan untuk melakukannya atau tidak. Beberapa buku pun mengatakan bahwa senyuman yang terlihat lebih lama ditampilkan adalah senyuman bahagia yang secara tulus dilakukan. Masih oleh Ekman (2003), senyum bisa membingungkan, tidak hanya karena senyum itu terjadi pada masing-masing emosi menyenangkan, tetapi juga karena ditunjukkan ketika orang tidak merasakan berbagai jenis kesenangan, misalnya dalam kesopanan. Ini menguatkan gejala yang terjadi terutama terlihat pada masyarakat timur, bahwa senyuman menjadi pembentukan kesopanan seseorang pada orang lain. Ekman (2003) menuliskan tentang seorang neurolog besar asal Perancis, Duchenne de Boulogne, yang menemukan bagaimana senyum kesenangan yang sebenarnya itu berbeda dari semua senyum bukan kesenangan. Dengan menggunakan eksperimen melalui foto, Duchenne melihat foto senyum yang dihasilkan dengan mengaktifkan apa yang disebut orbicularis oculiyang berkombinasi dengan otot utama zigomatik (zygomatic major muscle)-otot itu bergerak dari tulang pipi ke bawah pada sebuah sudut di ujung bibir, menekan ujung bibir ke atas pada suatu sudut menjadi sebuah senyum- ia mencatat bahwa orang tersebut tidak benar-benar terlihat bahagia. Kesenangan yang menipu, tawa penuh kebohongan, tidak bisa memprovokasi kontraksi pada otot orbicularis oculi; otot disekitar mata tidak mematuhi kehendak tersebut, otot disekitar mata itu hanya bereaksi pada permainan dengan sebuah perasaan yang sebenarnya (bukan dibuat-buat), dengan sebuah emosi yang bisa disetujui. Jadi, pada penelitian yang sudah berusia berpuluh tahun ini mengungkapkan bahwa jika kita tersenyum yang diniatkan atau dipaksakan, maka ternyata otot yang berperan pada hal ini adalah tidak sama dengan oto yang berperan dalam senyuman yang tulus. Kemudian, mengklarifikasi mengenai anak bayi yang tersenyum pada orangtuanya, pada Ekman (2003), dicatat bahwa ketika bayi berusia sepuluh bulan diperkenalkan kepada orang asing, senyum bayi tidak akan melibatkan otot disekitar mata, melainkan otot yang menggerakan mata itu tampak terlibat dalam memunculkan senyum ketika sang ibu mendekati sang bayi. Ketika membicarakan kematian, seorang pasangan berusaha menunjukkan senyum dengan melibatkan otot yang menggerakkan mata, yang dilakukan untuk mengurangi rasa duka dua tahun kemudian—bukan berarti mereka menikmati kematian pasangan mereka, tetapi mereka mampu mengingat kembali pengalaman menyenangkan bersama pasangan yang meninggal itu. Inilah yang pada gejala, merupakan senyuman yang timbul walau didalam hatinya pedih. Pada umumnya, orang yang sering menunjukkan senyum yang melibatkan otot di sekitar mata mengatakan bahwa perasaan mereka menjadi lebih bahagia, mempunyai tekanan darah lebih rendah, dan dikatakan oleh pasangan dan teman mereka bahwa dia tampak bahagia (Ekman, 2003).
Saat seseorang tersenyum maka ada nilai-nilai moral yang terkandung, yang mungkin pernah diajarkan. Magnis (1897) mengatakan bahwa penilaian moral tidak sekedar masalah perasaan, melainkan masalah kebenaran objektif. Ada perbedaan pendapat moral, kita tidak berdebat tentang perasaan kita melainkan tentang apa yang secara objektif menjadi kewajiban kita dan apa yang tidak. Penilaian moral bersifat rasional dan obyektif karena hanya dapat dibenarkan atau disangkal. Penilaian moral tidak pernah hanya mengenai masalah konkret yang dihadapi, melainkan selalu mengandung klaim keberlakuan universal. Implikasinya pada masalah adalah senyum sebagai bentuk senang dan bahagia adalah klaim yang universal, saat orang memandang seseorang lain tersenyum secara obyektif ia akan dipandang sedang bahagia,itulah penilaian moral. Seperti yang dicontohkan Ekman (2003) ini, ada banyak senyum bukan kesenangan yang berbeda. Sebagian, seperti senyum kesopanan, hanya melibatkan bibir yang tersenyum, senyum ini juga ditujukan untuk mengindikasikan bahwa pendengar setuju dengan atau memahami apa yang pembicara katakan selama sebuah percakapan. Inilah yang dimaksud dengan senyum yang bermakna sebagai kesopanan, senyum tersebut dapat diajarkan oleh lingkungan kita.
Menurut Brouwer (1984), perasaan sulit dianalisa. Memang ada perasaan majemuk, tapi dalam perasaan tidak terdapat suatu corak yang jelas. Perasaan lebih dekat pada gejala pengalaman daripada pengamatan. Perasaan sulit didiskusikan. Tidak mungkin membuktikan kebenaran dari perasaan; hal yang enak bagi satu orang, kurang enak bagi yang lain. Hal itu tidak bisa diuji atau dibenarkan. Ada perasaan yang tidak mempunyai objek, yaitu orang yang merasa bahagia, merasa gelisah tanpa mengetahui sebabnya. Juga keadaan yang disebut stimmung (keadaan mengalami) ialah gejala tanpa obyek. Menunjukkan senyuman secara pengamatan berarti ia sedang merasa senang, bersikap sopan, mencoba membuka diri, dan lain sebagainya, tetapi belum tentu apa yang dirasakan sesungguhnya saat ia tersenyum. Perasaan yang dimiliki oleh seseorang, tidak ada yang benar-benar mengetahuinya. Manusia tetap manusia, yaitu hasil kebudayaan, yang lucu untuk satu orang, mungkin tragis untuk orang lain (Brouwer, 1984). Senyuman sebagai pertanda ada atmosphere kebahagiaan, tapi tidak bagi orang yang melakukannya. Manusia ialah suatu misteri karena dia merupakan suatu kontradiksi. Daging dan roh, kepribadian, dan relasi sosial, nafsu dan hal ilahi menjadi suatu corak yang mahakompleks. Badan dilukiskan sebagai medium waktu, ruang, alam warna dan bunyi, alam seksualitas, bahasa pergaulan dengan orang lain (Brouwer, 1984). Analisa dari pengamatan menghasilkan hal yang berikut : badan kita, Merleau Ponty dalam bukunya Brouwer (1984) berpendapat seperti Goldstein bahwa pancaindera menghasilkan pengamatan yang mempunyai corak dari organisme, satu organisme menciptakan pelbagai corak pengamatan sesuai dengan bentuk dari indera. Tingkah laku membentuk lingkungan secara sistematis. Pancaindera menangkap karena hasil pengamatan melalui lingkungan bahwa senyuman sebagai bentuk relasi sosial antar manusia, yang ditujukan untuk maksud tertentu yang menjadi salah pemahaman karena itu tercipta berdasarkan pengamatan pancaindera. Tambahan dari Merleau Ponty dalam Brouwer (1988) “kita hidup terus menerus dalam suatu alam pengamatan, kita bisa melampaui dunia itu dengan pemikiran kritis dan memikirkan dunia itu sendiri. Akibatnya kita bisa lupa sumbangan apa yang diberikan dunia pengamatan itu untuk ide dari kebenaran.” Kenyataan bahwa pengamatan ialah suatu gejala yang sulit diterangkan kesadaran yang tidak bisa masuk gejala itu. Seperti eksistensi juga pengamatan ialah hal yang ambigu, tidak terang dan tidak gelap, suatu gejala, suatu alam yang tak pernah menjadi transparan untuk kesadaran. Teka-teki ialah kenyataan bahwa pengamatan ialah gejala jasmaniah, dan badan ialah suatu gejala yang tak pernah bisa menjadi jelas seratus persen. Karena pengamatan ialah gejala jasmaniah tidak heran juga pengamatan tidak pernah bisa menjadi terang seluruhnya dalam cahaya kesadaran. Pengamatan bukan suatu pengetahuan menurut Merleau Ponty, melainkan suatu kepercayaan, melihat artinya suatu penerimaan dogma, keyakinan adanya suatu alam, keyakinan yang tetap berlaku juga kalau pengamatan palsu. Justru berdasar kepercayaan itu kita bisa hidup baik dalam dunia pura-pura dan tipuan maupun dalam realitas. Jelasnya, bahwa terkadang kita pun tidak tahu senyuman apa yang orang lain lemparkan pada kita, karena pancaindera menangkap hal itu sebagai reaksi untuk ikut tersenyum, maka kita pun akan membalasnya. Dalam hal ini kita sama-sama saling mengetahui bahwa kita bahagia hanya dengan saling melemparkan senyum. Walau saat senyum menjadi bagian yang diniatkan bagi yang melakukannya, saat itulah kita tidak sepenuhnya menyadari apa maksud dan latar belakang seseorang melakukan itu untuk kita. Dunia pengamatan itu sendiri terkadang tidak memunculkan respon yang sebenarnya karena kita disini hanya melihat dengan menggunakan pancaindera dan yang bermain adalah mata.
Gejala dan kenyataan disini sudah jelas, senyuman memang memiliki makna yang berbeda-beda tergantung kepada siapa diberikan dan dengan tujuan apa. Sepertiyang diungkapkan dari Kompas (http://kesehatan.kompas.com/read/2009/11/21/07482015/Ketuklah.dengan.Senyuman, 2009) bahwa senyum itu bisa dilatih. Orang bisa membiasakan diri untuk tersenyum kepada orang lain. Mereka yang secara sengaja mencoba untuk tersenyum akan mengerti bahwa untuk dapat tersenyum, hati harus merasa senang. Karena seperti yang kita ketahui, tersenyum dengan hati yang tulus dan jujur, dibentuk oleh otot pada wajah sebagai senyum yang jujur pula, dan orang lain yang melihatnya akan ikut merasa senang. Bandingkan dengan senyuman karena keterpaksaan, maka aura yang tercipta adalah berbeda. Karena itu jika kita memahami bahwa senyum adalah bahasa universal untuk menyatakan hati yang senang, maka sebaiknya kita belajar untuk mengatakan hal itu dengan sesungguhnya.Kenyataan bahwa untuk tersenyum ramah hati harus benar-benar terbuka, membawa banyak akibat positif kepada orang-orang yang mau bersusah payah berlatih tersenyum jujur kepada orang lain. Tanpa dapat dicegah, orang yang sering tersenyum akan memiliki wajah yang lebih ceria http://kesehatan.kompas.com/read/2009/11/21/07482015/Ketuklah.dengan.Senyuman,2009).