
Soundtrack of My Life terbaik untuk saya dua tahun belakangan ini adalah Dance With My Father yang dibawakan oleh Celine Dion. Ini terjadi karena 14 Mei 2009 yang dulu, ayah saya meninggalkan saya untuk selama-selamanya. Peristiwa tersebut terjadi secara tiba-tiba dan ketika saya berada disemester tiga perkuliahan. Hari sabtu, minggu terakhir ayah saya masih hidup, saya merasakan perubahan sikap ayah yang tadinya saya kenal sebagai pribadi tertutup menjadi seorang yang terbuka dan lebih lembut. Saya tidak merasakan benar-benar perubahan itu sampai ayah saya meninggal. Sebelum ayah saya pulang ke Jakarta dari Yogyakarta, saya selama seminggu berjalan-jalan dengannya berdua saja. Andai saya tahu itu adalah saat terakhir dan terindah saya bersamanya…. Ada yang saya sesali saat minggu terakhir dengan kebersamaannya, saya suatu hari marah sekali padanya karena saat saya ada kesulitan ia tidak mendukung saya, bahkan membiarkan saya tanpa diberi semangat. Saat-saat itu saya jengkel sekali dan saya berharap ayah saya cepat pulang ke Jakarta karena sejujurnya saya lebih senang sendiri kala itu. Saya tahu, kami sama-sama memiliki sikap egois, maunya selalu diperhatikan. Ayah menyuruh saya ini itu padahal saya sedang memiliki banyak kesibukan yang saya tidak dapat tinggalkan. Namun ayah saya kurang mengerti posisi ini. Ia ingin agar saya terus memperhatikan dan mengurusnya (sementara ibu sedang di Jakarta).
Setelah ayah saya pulang ke Jakarta, saya merasa lega karena saya tidak akan direpotkan oleh banyak permintaannya. Saya berangkat kuliah seperti biasa beberapa hari itu, sampai suatu saat, saya ingat itu hari Sabtu, malam minggu, ayah saya menelepon saya dan mengatakan hal yang tidak saya duga sebelumnya. Ayah saya ingin saya pergi untuk bersenang-senang dan mencari pacar, menikmati masa muda, katanya. Saya terharu karena tidak selalu biasanya ayah saya berkata demikian. Saya menanggapinya biasa-biasa saja karena saya masih kecewa peristiwa ayah saya membiarkan saya disaat sulit. saya tidak percaya itu adalah kata-kata terakhir darinya….
Minggu pagi-nya tidak ada kabar dari ayah, tidak juga dari ibu. Saya pikir mereka sibuk walau biasanya tidak demikian (setiap hari pasti menelepon). Saya tidak menanggapinya dengan menelepon balik sampai hari Selasa, minggu berikutnya. Saya penasaran, mengapa ayah saya tidak juga membalas SMS yang saya kirimkan ? saya tidak juga berusaha menelepon. Saya pikir mungkin ayah atau ibu marah ? tetap, saya tidak berminat menelepon, sekedar SMS saja.
Kemudian tiba saatnya saya ditelepon ibu, kala itu hari Rabu sore, 13 Mei 2009 dan saya masih kuliah. Ibu bertanya dan juga sedikit memaksa saya untuk pulang dadakan ke Jakarta karena ayah saya sakit dan dirawat di Rumah Sakit. Saya tidak begitu panik kala itu karena saya pikir ayah saya sakit biasa saja (dulu pernah dua kali dirawat). Ibu saya tidak banyak bercerita tetapi memaksa saya untuk segera ke Jakarta. Singkat cerita, saya dapatkan kursi kosong satu-satunya Garuda penerbangan paling malam dan dari Cengkareng, saya segera menuju Medistra. Keluarga saya yang menjemput mengatakan saya tidak perlu menangis karena dapat menambah beban ibu saya. Tetapi sampai di Medistra, saya tidak dapat menahan kekuatiran saya dan saya tumpahkan itu semua ke pelukan ibu saya yang ternyata sudah sembab matanya. Katanya ayah saya koma, saya segera diperbolehkan masuk untuk melihat keadaan ayah saya yang sejak jam 3 sore kritis dan tidak sadarkan diri. Pikiran saya mulai macam-macam, membayangkan yang tidak-tidak terjadi pada ayah saya. Saya dan ibu meracau di telinga ayah saya, memberikan semangat untuk sadar dan tanpa sadar saya meminta maaf.
Selang pukul tiga dini hari, dokter menyatakan ayah saya pergi untuk selamanya. Saya terpukul mendengarnya karena saya, ibu, serta kakak saya belum siap menerima kenyataan ini. Semuanya serba cepat, dadakan dan..tidak mungkin kalau boleh saya katakan. Ayah saya tidak sakit, tidak apa, dia baru pagi masuk rumah sakit, dikabarkan kritis dan sekarang meninggal ? Saya merasa saya melayang-layang di udara mendengarnya, apakah ini mimpi ? ditinggalkan secepat itu oleh ayah ? Tuhan… saya belum membayar semua jasa-jasa yang telah diberikannya…, ratap saya.
Terlepas dari sikap ayah yang terkadang menyebalkan pada saya, ia adalah ayah terbaik di dunia. Saya banyak dimanjakan olehnya, ia selalu berusaha saya mendapatkan yang terbaik, ia tidak ingin saya bernasib yang sama seperti dia waktu seusia saya. Sewaktu salah satu radio memasang lagu Dance With My Father ini, saya menangis lama, lirik lagu ini menyentuh perasaan saya yang paling dalam : sesal, sedih, kecewa, semua campur jadi satu.
Sekarang yang saya miliki hanya ibu saya, tugas saya tidak lain adalah membuat dia bangga dan membahagiakan dia lewat cita-cita yang saya bangun demi masa depan. Saya yakin lewat cara itu saya juga mampu membahagiakan ayah saya sekalipun ia berada di dunia yang lain. Kesempatan yang saya buang selama 19 tahun untuk membahagiakan ayah saya, akan saya pakai untuk membahagiakan ibu saya, sekarang. Saya belajar untuk tidak menyia-yiakan orang yang saya sayangi mulai detik ayah saya dinyatakan tidak ada.
Kau datang bagai hujan, basahi tanah hati
sayangku, kekasih hatiku, lama saya mencumbumu, biar semua yang menyaksikan cemburu akan perbuatan kita berjam-jam itu… tapi Tuhan kala itu tidak cemburu, Ia membiarkan kita terlibat dalam rasa itu dengan suatu momen yang kita harap muncul kembali secara cepat dan pasti..
kepulangan kembali ke Yogya dari Bekasi saat liburan paskah kemarin menyisakan kerinduan tersendiri. Diramalkan kekasih hati akan berangkat kerja di pulau orang beberapa hari kedepan. Well, berterima kasihlah bukan di negeri orang; tetapi tetap, ia jauh baik jiwa maupun raga, meski hati (mungkin) sedekat biasanya…
sesaat sebelum pesawat take off meninggalkan kota yang tidak pernah tidur itu, saya merenung… akankah detik-detik menuju akhir 2011 akan terasa mudah tanpa kekasih hati disamping ? Taruhlah, ini belum ada separuh perjalanan kami, baru 2 bulan saja terpisah…. sanggupkah bulan bahkan tahun mendatang ?
jawabannya ada di hati dan keyakinan masing-masing kami berdua. menjalani hubungan yang jauh itu tidak akan pernah mudah, pun hati saya sudah berkali-kali diyakinkan olehnya, saya tetaplah seorang manusia - individu yang membutuhkan ruang untuk berjuang sendirian- biasa; tidak dapat mempercayai orang begitu saja sebab saya memiliki tameng untuk bertahan jika disakiti. saya harus menyelidiki tetapi saya cinta kamu, sayang…., selamanya…
saya ingin berterima kasih, saat-saat saya berada 2 hari di Bekasi, 2 malam pula saya menikmati indahnya bercinta denganmu, sang kekasih hati… terlena dalam peluk kerinduan, gembira, haru, dan sendu semua bertumpah ruah tumpang tindih mengisyaratkan kebutuhan untuk dilengkapi..
sayangku, kekasih hatiku, lama saya mencumbumu, biar semua yang menyaksikan cemburu akan perbuatan kita berjam-jam itu… tapi Tuhan kala itu tidak cemburu, Ia membiarkan kita terlibat dalam rasa itu dengan suatu momen yang kita harap muncul kembali secara cepat dan pasti..
“terima kasih, sayang, kamu sudah banyak berubah.., aku pun ingin berubah demi kita berdua. Akan tiba saatnya nanti diwaktu yang indah, aku berjumpa denganmu, mengikat janji kita untuk terus bersama… pada detik itu, aku ingin kamu tahu, perjuangan kita ini tak akan pernah sia-sia”
untuk : Ronald Regen Pakpahan
“dengan tenteram aku mau membaringkan diri,lalu segera tidur,sebab hanya Engkaulah,ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.”
aku percaya bukan hanya dalam tidur, pun saat aku terjaga, Kau jamah aku dengan kehangatan. Saat detik-detik ini aku kecewa, Kau rangkul dan pandangi aku mengatakan semua akan baik saja…
Sebab mulai malam inilah aku tersadar terbangun dari mimpi-mimpi indahku, aku telah lama membiarkan hatiku terpaut rindu tak berbalas. Rindu yang telah lama membuat aku belajar untuk tegar dan setia. Adakah ia menyadarinya hati ini menjadi beku tiba-tiba ?
Awal didalam perjalanan ini, aku tersandung-sandung, batu tajam menembus tulang kaki, meresahkan perihnya. Aku mendesah pelan namun dengan pasti beberapa saat setelah itu aku tersenyum, aku percaya hikmah dibalik semua ini. Rencana Ia indah, bisikku dalam diam. Aku berada ditahap yang aman.
dan aku pikir kamu pun merasakan begitu….?
Ternyata aku salah memahami, aku pikir diperjalanan ini, aku hidup denganmu, setapak demi setapak ? malam ini habislah sudah… semua drama terbuka, begitu pula kotak pandora, aku sendirian dan aku merindukan ketulusan. kau mungkin tertawa atau kecewa…? aku tak tahu rautmu, yang tahu hanya kau dan Dia.
aku berada ditahap tidak aman dan aku sedih…
siapakah yang peduli dan mau mengerti, jawabannya hanya Dia.
Maafkan aku mengharapkanmu terlampau jauh, menggantungkan angan, mimpi, dan harapan…berada di jalan yang sama dengan jalan yang kamu lalui….. “kita ?” oh aku lega dapat berterima kasih kau berikan aku kesempatan merasakan ini sendirian. Ada hembusan bahwa ini semua akan baik saja yang memberikan aku kekuatan kembali. Rapuh ini milikku seorang dan aku siap berdiri tegar…
Maka aku sedih hati, mengeluh dan menangis. Dengan keluh kesah aku angkot doa begini….:
“Engkaulah adil, ya Tuhan, semua perbuatanMu adil pula ; semua tindakanMu belas kasihan dan kebenaran, dan dunia semesta diadili olehMu. Oleh sebab itu, ya Tuhan, ingatlah kepadaku, pandangilah aku ! Jangan aku Kauhukum sekedar segala dosaku dan setimpal dengan kekhilafanku kepadaMu atau sekedar dosa yang diperbuat nenek moyangku !
Aku telah tidak taat kepada segala perintahMu, maka kami Kauserahkan untuk dirampasi dan untuk ditawan dan dibunuh, dan untuk menjadi sindiran tertawaan dan orang ternista ditengah sekalian bangsa dimana kami Kau cerai beraikan. Segala hukumanMu memang benar, apabila kini aku Kauperlakukan sekedar segala dosaku.., karena kami tidak memenuhi perintah-perintahMu dan tidak berjalan benar dihadapanMu..
Kini perbuatlah kepadaku menurut apa yang berkenan kepadaMu dan sudilah mencabut nyawaku sehingga lenyaplah aku dari muka bumi dan kembali menjadi debu. Sebab mati lebih berguna bagiku dari hidup, karena aku mesti mendengar nista dan fitnah dan sangat sedih rasa hatiku.
ya Tuhan suruhlah supaya aku lepas dari susah ini, biarlah aku lenyap menuju tempat abadi; janganlah wajahMu Kaupalingkan daripadaku ya Tuhan, Sebab lebih bergunalah mati saja daripada melihat banyak suah dalam hidupku. Nista tidak dapat kudengar lagi !”
(Tobit 3 : 1-6)
Faktanya, memang sebuah senyuman itu memiliki banyak pengertian yang kompleks. Terkadang kita tidak sungguh-sungguh menyadari mengapa kita tersenyum pada orang lain. Dalam posisi kita sebagai masyarakat dengan budaya timur, kita terbiasa melakukannya untuk menunjukkan bahwa kita berusaha bersikap sopan atau terbuka pada orang lain. Saat kita tersenyum walau hati tidak menginginkannya, yang terlihat mungkin senyuman masam; pada saat kita mencoba tersenyum saat kita merasa khawatir atau kecewa, maka senyuman akan terlihat kecut. Saat kita tersenyum saat hati mengalami perih atau luka, senyuman akan terlihat seperti dipaksakan, dengan kata lain senyuman tersebut bisa jadi adalah palsu. Tetapi hanya orang yang melihatnya yang benar-benar mengerti atau terlatih sensitivitasnya yang menyadari bahwa senyuman itu keluar bukan karena diri menginginkannya. Sebelum kita mendeskripsikan dan mempersepsi secara langsung apakah senyuman itu merupakan senyuman yang dipaksakan atau tidak, terungkap masalah bahwa senyuman itu bukan lagi pertanda bahwa seseorang merasa senang atau bahagia, bahkan mungkin dapat sebagai pertahanan dirinya atau untuk suatu tujuan tertentu. Terlepas dari itu pemahaman umum mengenai hal ini perlu endapat telaah lebih lanjut. Didalam bukunya, Ekman (2003) mengungkapkan bahwa senyum merupakan sinyal emosi menyenangkan pada wajah; kegirangan, kepuasan hati, kebahagiaan, sensasi kesenangan, kelegaan, keheranan, kesenangan yang meluap-luap, dan mungkin sanjungan, rasa terima kasih, semuanya selalu melibatkan senyuman. Artinya, senyum identik hubungannya dengan sesuatu kejadian yang membahagiakan. Kemudian ia juga menambahkan bahwa senyum-senyum ini mungkin berbeda dalam intensitas, seberapa cepat senyum itu tampak, seberapa lama senyum itu tertinggal di wajah, dan seberapa lama ia menghilang. Dalam hal ini, senyuman dapat terlihat apakah ia berasal dari keinginan untuk melakukannya atau tidak. Beberapa buku pun mengatakan bahwa senyuman yang terlihat lebih lama ditampilkan adalah senyuman bahagia yang secara tulus dilakukan. Masih oleh Ekman (2003), senyum bisa membingungkan, tidak hanya karena senyum itu terjadi pada masing-masing emosi menyenangkan, tetapi juga karena ditunjukkan ketika orang tidak merasakan berbagai jenis kesenangan, misalnya dalam kesopanan. Ini menguatkan gejala yang terjadi terutama terlihat pada masyarakat timur, bahwa senyuman menjadi pembentukan kesopanan seseorang pada orang lain. Ekman (2003) menuliskan tentang seorang neurolog besar asal Perancis, Duchenne de Boulogne, yang menemukan bagaimana senyum kesenangan yang sebenarnya itu berbeda dari semua senyum bukan kesenangan. Dengan menggunakan eksperimen melalui foto, Duchenne melihat foto senyum yang dihasilkan dengan mengaktifkan apa yang disebut orbicularis oculiyang berkombinasi dengan otot utama zigomatik (zygomatic major muscle)-otot itu bergerak dari tulang pipi ke bawah pada sebuah sudut di ujung bibir, menekan ujung bibir ke atas pada suatu sudut menjadi sebuah senyum- ia mencatat bahwa orang tersebut tidak benar-benar terlihat bahagia. Kesenangan yang menipu, tawa penuh kebohongan, tidak bisa memprovokasi kontraksi pada otot orbicularis oculi; otot disekitar mata tidak mematuhi kehendak tersebut, otot disekitar mata itu hanya bereaksi pada permainan dengan sebuah perasaan yang sebenarnya (bukan dibuat-buat), dengan sebuah emosi yang bisa disetujui. Jadi, pada penelitian yang sudah berusia berpuluh tahun ini mengungkapkan bahwa jika kita tersenyum yang diniatkan atau dipaksakan, maka ternyata otot yang berperan pada hal ini adalah tidak sama dengan oto yang berperan dalam senyuman yang tulus. Kemudian, mengklarifikasi mengenai anak bayi yang tersenyum pada orangtuanya, pada Ekman (2003), dicatat bahwa ketika bayi berusia sepuluh bulan diperkenalkan kepada orang asing, senyum bayi tidak akan melibatkan otot disekitar mata, melainkan otot yang menggerakan mata itu tampak terlibat dalam memunculkan senyum ketika sang ibu mendekati sang bayi. Ketika membicarakan kematian, seorang pasangan berusaha menunjukkan senyum dengan melibatkan otot yang menggerakkan mata, yang dilakukan untuk mengurangi rasa duka dua tahun kemudian—bukan berarti mereka menikmati kematian pasangan mereka, tetapi mereka mampu mengingat kembali pengalaman menyenangkan bersama pasangan yang meninggal itu. Inilah yang pada gejala, merupakan senyuman yang timbul walau didalam hatinya pedih. Pada umumnya, orang yang sering menunjukkan senyum yang melibatkan otot di sekitar mata mengatakan bahwa perasaan mereka menjadi lebih bahagia, mempunyai tekanan darah lebih rendah, dan dikatakan oleh pasangan dan teman mereka bahwa dia tampak bahagia (Ekman, 2003). Saat seseorang tersenyum maka ada nilai-nilai moral yang terkandung, yang mungkin pernah diajarkan. Magnis (1897) mengatakan bahwa penilaian moral tidak sekedar masalah perasaan, melainkan masalah kebenaran objektif. Ada perbedaan pendapat moral, kita tidak berdebat tentang perasaan kita melainkan tentang apa yang secara objektif menjadi kewajiban kita dan apa yang tidak. Penilaian moral bersifat rasional dan obyektif karena hanya dapat dibenarkan atau disangkal. Penilaian moral tidak pernah hanya mengenai masalah konkret yang dihadapi, melainkan selalu mengandung klaim keberlakuan universal. Implikasinya pada masalah adalah senyum sebagai bentuk senang dan bahagia adalah klaim yang universal, saat orang memandang seseorang lain tersenyum secara obyektif ia akan dipandang sedang bahagia,itulah penilaian moral. Seperti yang dicontohkan Ekman (2003) ini, ada banyak senyum bukan kesenangan yang berbeda. Sebagian, seperti senyum kesopanan, hanya melibatkan bibir yang tersenyum, senyum ini juga ditujukan untuk mengindikasikan bahwa pendengar setuju dengan atau memahami apa yang pembicara katakan selama sebuah percakapan. Inilah yang dimaksud dengan senyum yang bermakna sebagai kesopanan, senyum tersebut dapat diajarkan oleh lingkungan kita. Menurut Brouwer (1984), perasaan sulit dianalisa. Memang ada perasaan majemuk, tapi dalam perasaan tidak terdapat suatu corak yang jelas. Perasaan lebih dekat pada gejala pengalaman daripada pengamatan. Perasaan sulit didiskusikan. Tidak mungkin membuktikan kebenaran dari perasaan; hal yang enak bagi satu orang, kurang enak bagi yang lain. Hal itu tidak bisa diuji atau dibenarkan. Ada perasaan yang tidak mempunyai objek, yaitu orang yang merasa bahagia, merasa gelisah tanpa mengetahui sebabnya. Juga keadaan yang disebut stimmung (keadaan mengalami) ialah gejala tanpa obyek. Menunjukkan senyuman secara pengamatan berarti ia sedang merasa senang, bersikap sopan, mencoba membuka diri, dan lain sebagainya, tetapi belum tentu apa yang dirasakan sesungguhnya saat ia tersenyum. Perasaan yang dimiliki oleh seseorang, tidak ada yang benar-benar mengetahuinya. Manusia tetap manusia, yaitu hasil kebudayaan, yang lucu untuk satu orang, mungkin tragis untuk orang lain (Brouwer, 1984). Senyuman sebagai pertanda ada atmosphere kebahagiaan, tapi tidak bagi orang yang melakukannya. Manusia ialah suatu misteri karena dia merupakan suatu kontradiksi. Daging dan roh, kepribadian, dan relasi sosial, nafsu dan hal ilahi menjadi suatu corak yang mahakompleks. Badan dilukiskan sebagai medium waktu, ruang, alam warna dan bunyi, alam seksualitas, bahasa pergaulan dengan orang lain (Brouwer, 1984). Analisa dari pengamatan menghasilkan hal yang berikut : badan kita, Merleau Ponty dalam bukunya Brouwer (1984) berpendapat seperti Goldstein bahwa pancaindera menghasilkan pengamatan yang mempunyai corak dari organisme, satu organisme menciptakan pelbagai corak pengamatan sesuai dengan bentuk dari indera. Tingkah laku membentuk lingkungan secara sistematis. Pancaindera menangkap karena hasil pengamatan melalui lingkungan bahwa senyuman sebagai bentuk relasi sosial antar manusia, yang ditujukan untuk maksud tertentu yang menjadi salah pemahaman karena itu tercipta berdasarkan pengamatan pancaindera. Tambahan dari Merleau Ponty dalam Brouwer (1988) “kita hidup terus menerus dalam suatu alam pengamatan, kita bisa melampaui dunia itu dengan pemikiran kritis dan memikirkan dunia itu sendiri. Akibatnya kita bisa lupa sumbangan apa yang diberikan dunia pengamatan itu untuk ide dari kebenaran.” Kenyataan bahwa pengamatan ialah suatu gejala yang sulit diterangkan kesadaran yang tidak bisa masuk gejala itu. Seperti eksistensi juga pengamatan ialah hal yang ambigu, tidak terang dan tidak gelap, suatu gejala, suatu alam yang tak pernah menjadi transparan untuk kesadaran. Teka-teki ialah kenyataan bahwa pengamatan ialah gejala jasmaniah, dan badan ialah suatu gejala yang tak pernah bisa menjadi jelas seratus persen. Karena pengamatan ialah gejala jasmaniah tidak heran juga pengamatan tidak pernah bisa menjadi terang seluruhnya dalam cahaya kesadaran. Pengamatan bukan suatu pengetahuan menurut Merleau Ponty, melainkan suatu kepercayaan, melihat artinya suatu penerimaan dogma, keyakinan adanya suatu alam, keyakinan yang tetap berlaku juga kalau pengamatan palsu. Justru berdasar kepercayaan itu kita bisa hidup baik dalam dunia pura-pura dan tipuan maupun dalam realitas. Jelasnya, bahwa terkadang kita pun tidak tahu senyuman apa yang orang lain lemparkan pada kita, karena pancaindera menangkap hal itu sebagai reaksi untuk ikut tersenyum, maka kita pun akan membalasnya. Dalam hal ini kita sama-sama saling mengetahui bahwa kita bahagia hanya dengan saling melemparkan senyum. Walau saat senyum menjadi bagian yang diniatkan bagi yang melakukannya, saat itulah kita tidak sepenuhnya menyadari apa maksud dan latar belakang seseorang melakukan itu untuk kita. Dunia pengamatan itu sendiri terkadang tidak memunculkan respon yang sebenarnya karena kita disini hanya melihat dengan menggunakan pancaindera dan yang bermain adalah mata. Gejala dan kenyataan disini sudah jelas, senyuman memang memiliki makna yang berbeda-beda tergantung kepada siapa diberikan dan dengan tujuan apa. Sepertiyang diungkapkan dari Kompas (http://kesehatan.kompas.com/read/2009/11/21/07482015/Ketuklah.dengan.Senyuman, 2009) bahwa senyum itu bisa dilatih. Orang bisa membiasakan diri untuk tersenyum kepada orang lain. Mereka yang secara sengaja mencoba untuk tersenyum akan mengerti bahwa untuk dapat tersenyum, hati harus merasa senang. Karena seperti yang kita ketahui, tersenyum dengan hati yang tulus dan jujur, dibentuk oleh otot pada wajah sebagai senyum yang jujur pula, dan orang lain yang melihatnya akan ikut merasa senang. Bandingkan dengan senyuman karena keterpaksaan, maka aura yang tercipta adalah berbeda. Karena itu jika kita memahami bahwa senyum adalah bahasa universal untuk menyatakan hati yang senang, maka sebaiknya kita belajar untuk mengatakan hal itu dengan sesungguhnya.Kenyataan bahwa untuk tersenyum ramah hati harus benar-benar terbuka, membawa banyak akibat positif kepada orang-orang yang mau bersusah payah berlatih tersenyum jujur kepada orang lain. Tanpa dapat dicegah, orang yang sering tersenyum akan memiliki wajah yang lebih ceria http://kesehatan.kompas.com/read/2009/11/21/07482015/Ketuklah.dengan.Senyuman,2009).
maafkan aku bila aku ada rahasia bukan denganmu (lagi)